← Kembali ke Perpustakaan

Sumpah Darah Di Puncak Ilalang

👤 Anonim 🌟 Legenda 📅 2026
👁️ 3 dilihat
Sumpah Darah Di Puncak Ilalang
Penulis / Sumber
Anonim
Tahun
2026
Kategori
Legenda

Kisah Legenda

Di masa lampau, di tanah Bungku yang subur, hiduplah seorang Putri Raja yang kecantikannya masyhur hingga ke negeri seberang. Namun, paras cantiknya menyimpan duka. Sang Raja, ayahandanya, hendak menjodohkannya dengan seorang pangeran yang tidak ia cintai demi kepentingan kerajaan.

Sang Putri, yang hatinya telah tertambat pada orang lain namun takut menjadi anak durhaka, mencari jalan keluar yang halus. Ia mengajukan sebuah syarat sayembara yang ia yakini mustahil dilakukan: "Hamba bersedia dinikahi, asalkan calon suami hamba adalah orang pertama yang mampu berlari menaklukkan tebing terjal bukit itu dan mencapai batu besar di tengah hamparan ilalang di puncaknya."

Bukit itu terkenal ganas. Lerengnya curam dan dipenuhi hutan lebat, sementara puncaknya adalah padang alang-alang tajam dengan bebatuan besar.

Pada hari yang ditentukan, puluhan pangeran dan kesatria berlomba. Banyak yang gugur dan menyerah di tengah jalan karena kelelahan (tempat ini kelak disebut Mateantama). Namun, takdir berkata lain. Seorang pria asing—yang justru paling tidak diinginkan oleh sang Putri—berhasil menembus rintangan dan berdiri di atas batu besar di puncak bukit sebagai pemenang.

Ketika pria itu menagih janji, sang Putri gemetar dan mundur. Rasa cintanya pada kekasih hati lebih besar daripada komitmennya pada sayembara itu. Di hadapan rakyat dan ayahnya, ia berkata, "Aku tidak bisa. Aku menarik janjiku."

Suasana hening mencekam. Bagi masyarakat Bungku, janji adalah harga diri. Ingkar janji seorang Putri adalah aib besar yang mencoreng wajah kerajaan. Sang Raja, dengan hati hancur namun terikat kuat oleh hukum adat dan rasa malu, terpaksa mengambil keputusan paling berat. Demi menebus sumpah yang dilanggar, Raja menghunus kerisnya dan mengakhiri hidup putrinya sendiri di puncak bukit itu.

Darah sang Putri tumpah membasahi akar ilalang. Sejak saat itu, bukit tersebut dinamakan Mateantina (Matea: Mati, Tina: Putri/Perempuan), sebagai monumen abadi matinya seorang putri karena janji.
🕌

Jadwal Imsakiyah

Ramadan 1447H — Morowali, Sulawesi Tengah

Aktifkan pengingat otomatis dengan suara bedug saat waktu Imsak & Buka Puasa tiba.